Pengelolaan BRT Masih Kurang Baik

Pengelolaan BRT Masih Kurang Baik

Semarang-DPRD Kota (12/01) Mencuatnya kasus dugaan korupsi penyalahgunaan Bus Rapit Transit (BRT) bantuan dari pemeriantah pusat mengindikasi ada ketidaksiapan Badan Layanan Umum (BLU) BRT dalam mengelola angkutan massal di kota Semarang. Pengelolaan bus dinilai tidak siap dapat dilihat salah satunya dari 25 bus bantuan Kementerian Perhubungan sejak Januari 2016 lalu. Dengan terbengkalainya bantuan bus tersebut dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk mendapatkan keuntungan.

Menurut Agung Budi Margono, wakil ketua DPRD Kota Semarang, kondisi tersebut mengindikasikan bahaw BLU sebagai operator tidak siap, baik dalam menerima bantuan bus maupun dalam hal penyediaan transportasi massal yang aman dan nyaman.

Pengelolaan BRT selama ini dinilai belum maksimal dirasakan pelayanannya kepada masyarakat.  “ Terbukti masih banyak keluhan dari masyarakat mulai dari BRT sering terlambat, halte yang rusak, dan lainnya,” ujar Agung Budi Margono.

Agung Budi Margono menjelaskan setidaknya ada lima hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan BRT Trans Semarang bagi masyarakat. Pertama, menambah koridor layanan dan jumlah armada bus operasi, pemanfaatan ITS berupa tiket elektronik, buspriority, jadwal, dan posisi bus. Kedua, menambah jam layanan operasi serta jangkauan operasi melayani mendekati kawasan perumahan dan pemukiman. Terkahir yakni memberikan gaji yang lebih tinggi kepada supir BRT dari supir biasa. Untuk melakukan itu diperlukan manajemen profesional. (hm)

Leave a Reply