Khutbah Jumat, Imam Mardjuki : Jadikan Istighfar Sebagai Solusi

Khutbah Jumat, Imam Mardjuki : Jadikan Istighfar Sebagai Solusi

Semarang, DPRD Kota (27/01) Di hari Jumat yang berkah Bapak Imam Mardjuki, S.Sos anggota DPRD Kota Semarang Fraksi PKS berkesempatan menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al Kusuf Balai Kota Semarang. Dalam khutbahnya Imam Mardjuki menyampaikan sedikit gambaran mengenai kondisi bangsa yang saat ini sedang mengalami musibah, untuk itu Imam Mardjuki mengajak para jamaah untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Selain itu, Imam Mardjuki menyampaikan mengenai keutamaan ber-istighfar, bahwa amalan ini mampu menyelesaikan setiap kesulitan kita dan menjadi wasilah bagi kita untuk mendapatkan kemudahan dari Allah SWT. Imam Mardjuki membacakan satu ayat dalam Al -Quran surah Al-Anfal ayat 33 yang artinya :

“Wahai Muhammad, Allah sama sekali tidak akan menurunkan adzab kepada kaum kafir Quraisy selama kamu berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengadzab mereka selama mereka mau memohon ampun kepada-Nya ”. 

Imam Mardjuki melanjutkan, berkaitan dengan ayat tadi terdapat sebuah kisah dari Imam Hasan Al-Basri. Imam al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shubaih, bahwasanya dia berkata: Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al-Bashri rahimahumullah, tentang musim paceklik. Lalu Hasan al-Bashri berkata, “Istighfarlah engkau kepada Allah.”

Ada lagi orang yang mengadu bahwa dia miskin. Hasan al-Bashri tetap menjawab, “Mintalah ampun kepada Allah.”

Pengadu berikutnya mengatakan, “Do’akanlah saya agar dikaruniai anak.”

Hasan al-Bashri tetap menjawab, “Mintalah ampunan kepada Allah.”

Kemudian ada lagi yang mengadu bahwa kebunnya kekeringan. Hasan al-Bashri tetap menjawab, “Mohonlah ampun kepada Allah.”

Melihat hal itu, Rabi’ bin Shubaih heran dan berkata pada Hasan Al-Bashri. “Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’

Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, “Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya:

“Lalu aku berkata kepada kaumku, ‘Hendaklah kalian mohon ampun kepada Tuhan kalian dari kekafiran dan dosa-dosa kalian. Tuhan kalian itu senantiasa Maha PengampunAllah menurunkan hujan dari langit secara terus menerus kepada kalian. Allah memberikan harta dan anak kepada kalian. Allah memberikan kebun-kebun dan sungai-sungai kepada kalian.’ (Qs. Nuh [71]: 10-12)

Lalu seorang laki-laki bertanya pada Hasan al-Bashri, “Tidakkah seseorang di antara kita malu terhadap Tuhannya? Kita berbuat dosa lalu kita mohon ampun, lalu kita berbuat dosa lagi kemudian kita mohon ampun lagi, dan begitu seterusnya?”

Al-Hasan berkata kepada orang itu, “Setan ingin agar seorang di antara kalian berbuat seperti itu. Karena itu, kalian jangan meninggalkan istighfar untuk selama-lamanya.”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)

Imam Mardjuki juga menyampaikan bahwa selain kisah tadi, ada pula kisah yang layak untuk kita ambil hikmah bagi kehidupan kita, yakni kisah istighfarnya seorang tukang roti.

Dalam Kitab Shifatus Shafwah karangan Ibnul Jauzi, dikisahkan tentang pengembaraan Imam Ahmad bin Hambal ke suatu negeri, yang di negeri itu sudah banyak pengikut mazhabnya. Dalam perjalanan, beliau kemalaman dan menemukan sebuah masjid, beliau ingin menghabiskan malam di dalam masjid itu. Namun penjaga masjid tidak memperbolehkannya beristirahat di dalam masjid.

Kendati ketenaran Imam Ahmad sudah sampai di seluruh pelosok negeri, namun tak banyak orang mengenal sosok dan rupanya. Untunglah, ketika itu ada seorang pengusaha roti yang bersedia menerima beliau untuk menginap di rumahnya.

Ketika sampai di rumah, Imam Ahmad memperhatikan amalan yang terus diwiridkan oleh Si Tukang roti. Ia senantiasa beristighfar dalam setiap aktivitas yang ia lakukan. Lidahnya selalu basah dengan istighfar.

“Wahai tuan, apa fadhilah (keutamaan) yang tuan dapatkan dari amalan (selalu beristighfar) tersebut?” tanya Imam Ahmad penasaran.

Sang Tukang roti tersenyum. “Fadhilahnya, setiap do’a yang saya panjatkan kepada Allah selalu dikabulkan-Nya,” jawabnya.

“Tapi, ada satu do’a saya yang hingga saat ini belum dikabulkan Allah,” sambungnya.

“Do’a apakah itu, tuan?” tanyanya takjub.

“Dari dahulu, saya berdo’a kepada Allah agar dipertemukan dengan imam mazhab saya, yakni Imam Ahmad bin Hanbal. Namun hingga saat ini, saya belum juga dipertemukan dengan beliau,” tutur Tukang roti itu.

Lalu, dengan takjub Imam Ahmad berkata, “Aku adalah Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku benar-benar didatangkan oleh Allah kepadamu.”

Demikian dahsyatnya kekuatan istighfar, sehingga Allah subhanahu wa ta’alat enggan untuk menolak do’a tukang roti yang dipanjatkan kepada-Nya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Leave a Reply