Anggota Dewan Usulkan Wilayah Khusus Becak Motor

Anggota Dewan Usulkan Wilayah Khusus Becak Motor

Belasan pengemudi becak motor menggelar aksi di depan Balai Kota Semarang, Senin (7/8/2017). Mereka meminta bisa beraktivitas tanpa khawatir ditilang pihak kepolisian.

“Kami minta jangan ditilang. Kadang becak kami ditahan. Kami hidup dari mbecak,” kata Kasmijan, tukang becak motor yang sudah 30 tahun menjadi pengemudi becak.
Kasmijan mengubah becak kayuhnya menjadi becak motor menggunakan mesin pemarut kelapa. Untuk modifikasi itu, ia harus merogoh kocek sekitar Rp 3,3 juta.

“Saya ubah jadi becak motor karena tenaga sudah tidak kuat dan kalah saingan. Apalagi sudah banyak penumpang lari ke ojek online. Kami seringnya bawa barang, kalau penumpang sudah jarang,” ujarnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengatakan, berdasarkan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, keberadaan becak motor tidak ada.
“Roda dua bukan jenis angkutan apalagi modifikasi becak tidak diizinkan karena membahayakan, menyangkut masalah keamanan bagi penumpang,” ujarnya.

Namun, Suharsono berharap, pemerintah bisa mengakomodir terkait operasi becak motor tidak di jalan-jalan protokol. “Keberadaan mereka perlu diatur bukan perizinan tapi lokasi beroperasi. Mereka bisa beroperasi di luar jalan protokol yang tidak membahayakan penumpang.
Kalau diizinkan beroperasi seperti di Medan saya rasa tidak memungkinkan,” ujarnya.

Terpisah, Pakar Transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, meminta Pemkot Semarang tidak membiarkan adanya becak motor. Dia menilai, becak motor tidak laik jalan sebagai angkutan umum.

“Becak motor di Semarang beda di Medan. Kalau di Semarang, sepeda motor dipotong. Kalau di Medan motor utuh, ada uji kelaikan, dan pengemudi punya SIM tapi bukan SIM sepeda motor,” ujarnya.

Keberadaan becak motor, lanjut Djoko, sebaiknya dihilangkan. “Saya sudah bicara lama soal becak motor ini. Tapi pemerintah membiarkan. Sekarang jadi senjata makan tuan. Angkutan umum bukan becak motor jadi sebaiknya dihilangkan saja,” ujarnya.

Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2017/08/08/pakar-transportasi-minta-pemkot-hapus-becak-motor-anggota-dewan-usulkan-wilayah-khusus
(anw)

Leave a Reply